Ahli IT Orang Kantoran ini Iseng Daftar Go-Jek Buat Penghasilan Tambahan
Ribuan orang berbondong-bondong daftar Go-Jek. Mulai dari pegawai
kantoran hingga SPG tak malu menarik penumpang. Tukang ojek kini bukan
profesi biasa, tapi profesi primadona. Seperti halnya Doni (28),
pria yang kesehariannya bekerja sebagai IT perusahan swasta di kawasan
Jakarta ikut mendaftar Gojek. Meski kerja sebagai di ruangan ber-AC, dan
mengenakan kemeja serta dasi tak membuat malu untuk daftar sebagai
Gojek. "Sudah kerja sebagai IT di salah satu perusahaan di
kawasan Jakarta," ujar Doni usai mengantri berjam-jam bersama ketiga
rekannya di Hall Basket Senayan. Sedang alasan Doni dan rekan-rekannya untuk ikut mendaftar sebagai Go-Jek karena status karyawan lepas. "Inikan
freelance, jadi tidak masalah atau menganggu pekerjaan di kantor.
Soalnya buat narik penumpang itu tergantung kita, kalau bisa diambil,
kalau tidak juga nggak masalah, misalnya kita masih ada kerjaan,"
paparnya.
Ibarat pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui,
pasalnya jarak rumah dan kantor yang lumayan jauh bisa manfatkan dengan
mengambil sampingan. "Sekarang dari pada kita pulang
macet-macetan nggak dapat apa-apa, lebih jadi Go-Jek pulang kantor bisa
nyambi bawa penumpang yang satu arah dengan kita sudah gitu dapat uang
lagi," paparnya. Hal senada juga diutarakan oleh Dani yang merupakan rekan kerja dari Doni. Menjadi Go-Jek baginya bukan pekerjaan memalukan."Ya siapa juga yang nolak pendapatan 3 sampai 4 juta perbulan, itu bersih Loh. Lumayan buat tambah-tambah," papar Dani. Dani
menuturkan Go-Jek adalah satu contoh transportasi mengajarkan banyak
hal. Seperti dengan tertib administrasi, dan tertib berlalu lintas. "Sekarang
bisa dibandingi, angkutan mana yang menerapkan sistem tertib
administrasi, emang ada Angkot yang mau pakai seragam ketika narik,
kalau di-Go-Jek semua pakai jaket. Sudah gitu tidak boleh diganti
sembarang orang, karena ada peraturan dalam kontrak," tandasnya.
